Rabu, 18 November 2009

kamu dan ketakutanku..

maaf untuk aku yang selalu takut kehilangan kamu..
maaf untuk aku yang selalu takut kamu meninggalkan aku..
maaf untuk aku yang selalu meragukan kamu..
maaf untuk aku yang selalu membesar-besarkan masalah..
maaf untuk aku yang selalu memojokkan kamu..
maaf untuk aku yang selalu hanya mau didengarkan..
maaf untuk aku yang selalu merasa kamu yang salah..
maaf untuk aku yang selalu merasa benar..
maaf untuk aku yang selalu tidak pernah bersyukur memiliki kamu..
maaf untuk aku yang selalu hidup dalam ketakutanku sendiri..
maaf untuk aku yang selalu tidak bisa memberikan kenyamanan yang kamu butuhkan..
maaf untuk aku yang selalu membuat hidup kamu terasa jauh lebih sulit ketika ada aku di dalamnya..
maaf untuk aku yang selalu..
maaf..

yang aku tau hanya aku terlalu mencintai kamu..
aku terlalu sayang kamu..
aku terlalu takut diriku tidak pantas untuk kamu..
aku terlalu takut kamu tidak mencintai aku sebesar aku mencintai kamu..
aku terlalu yakin kamu tidak pernah menyayangiku, bahkan menangis memikirkan aku..

maaf..
cuma itu yang bisa aku katakan malam ini..
maaf..

Minggu, 15 November 2009

16 November 1:44 AM setelah melihat wallnya...




It's always the same in every relationship,
there is always one person crying and wishing to get back together,
while the other doesn't even remember the things they've been through.


I HATE that I have to be the one who remembers every little detail while you can't seem to remember me at all.

Rabu, 17 Juni 2009

When You Love Someone




When You Love Someone 

When you love someone so deep inside, It seems like it's so easy to hide. You've loved him for so very long, You would think he could do no wrong. Every day you would hope and pray, That he would always stay this way. He treated you like you should be treated, You thought your life was finally completed. You thought your love was growing true, And then one day it was all so blue. He started putting you down and it hurt, You thought all you were to him was dirt. He started ignoring you and you wondered why, All you wanted to do was curl up and die. You thought your relationship would never end, But that was all so fake and pretend. One night he was so sweet to you, You thought all those things were maybe untrue, Two days later he was back the same, You thought you were the one to blame. He thought the relationship was getting too serious And that you had become a little too curious. By this time you knew it wouldn't last, All the nice things he said were in the past. You thought that you would marry him some day, But this time God wanted to get his way. You wanted things back how they were before, But you knew this couldn't happen anymore. It was a Saturday night about ten o'clock, You heard the news and it wasn't a shock. You knew this was going to happen soon, As you laid there and cried in the pale lit moon.

Kamis, 11 Juni 2009

Bapaku...

Tuhan,,
sebentar hamba akan ujian...
tapi Tuhan,
tadi hamba mendengar sesuatu Tuhan..
dan karena itu Bapa,
hamba gelisah Tuhan..
gelisah kali Bapa..
hamba pengen nangis Tuhan...
tapi hamba ga bisa..
ga ada airmata yang keluar Tuhan..
Bapaku...
hati ini terus gelisah, Tuhan...
hati ini terus meronta-ronta ga tenang Tuhan...

Bapa, beri aku sabar Tuhan..
Tuhan, tolong tunjukkan jalanMu Tuhan...
Beri hamba keyakinan Tuhan,,,
kepadaMu hamba serahakan segala rencana hidup dan hidup hamba...
Tuhan yang bertahta, Tuhan yang berkuasa, Tuhan yang memerintah...
dan hamba yakin...
Tuhan sediakan harta yang berharga dibalik semua kelabu...
amin, Bapa,,
amin...

Rabu, 10 Juni 2009

motivational update,,, =)

kebetulan,, besok mau dikumpulin nih tulisan blog,,
bagian home ama profilenya...
hmm,,
untung kebuka,, jadi bisa sekalian update,,
hehehe...
nih, ada cerita bagus...

Sebuah kisah yg Indah.. Jerry adalah seorang manager restoran di Amerika. Dia selalu dalam semangat yang baik dan selalu punya hal positif untuk dikatakan. Jika seseorang bertanya kepadanya tentang apa yang sedang dia kerjakan, dia akan selalu menjawab, ” Jika aku dapat yang lebih baik, aku lebih suka menjadi orang kembar!” Banyak pelayan di restorannya keluar jika Jerry pindah kerja, sehingga mereka dapat tetap mengikutinya dari satu restoran ke restoran yang lain.

Alasan mengapa para pelayan restoran tersebut keluar mengikuti Jerry adalah karena sikapnya. Jerry adalah seorang motivator alami. jika karyawannya sedang mengalami hari yang buruk, dia selalu ada di sana , memberitahu karyawan tersebut bagaimana melihat sisi positif dari situasi yang tengah dialamai. Melihat gaya tersebut benar-benar membuat aku penasaran, jadi suatu hari aku temui Jerry dan bertanya padanya, “Aku tidak mengerti! Tidak mungkin seseorang menjadi orang yang berpikiran positif sepanjang waktu. Bagaimana kamu dapat melakukannya? ” Jerry menjawab, “Tiap pagi aku bangun dan berkata pada diriku, aku punya dua pilihan hari ini. Aku dapat memilih untuk ada di dalam suasana yang baik atau memilih dalam suasana yang jelek. Aku selalu memilih dalam suasana yang baik.

Tiap kali sesuatu terjadi, aku dapat memilih untuk menjadi korban atau aku belajar dari kejadian itu. Aku selalu memilih belajar dari hal itu. Setiap ada sesorang menyampaikan keluhan, aku dapat memilih untuk menerima keluhan mereka atau aku dapat mengambil sisi positifnya.. Aku selalu memilih sisi positifnya.” “Tetapi tidak selalu semudah itu,” protesku. “Ya, memang begitu,” kata Jerry, “Hidup adalah sebuah pilihan. Saat kamu membuang seluruh masalah, setiap keadaan adalah sebuah pilihan. Kamu memilih bagaimana bereaksi terhadap semua keadaan. Kamu memilih bagaimana orang-orang disekelilingmu terpengaruh oleh keadaanmu. Kamu memilih untuk ada dalam keadaan yang baik atau buruk. Itu adalah pilihanmu, bagaimana kamu hidup.”

Beberapa tahun kemudian, aku dengar Jerry mengalami musibah yang tak pernah terpikirkan terjadi dalam bisnis restoran: membiarkan pintu belakang tidak terkunci pada suatu pagi dan dirampok oleh tiga orang bersenjata. Saat mencoba membuka brankas, tangannya gemetaran karena gugup dan salah memutar nomor kombinasi. Para perampok panik dan menembaknya. Untungnya, Jerry cepat ditemukan dan segera dibawa ke rumah sakit.

Setelah menjalani operasi selama 18 jam dan seminggu perawatan intensif, Jerry dapat meninggalkan rumah sakit dengan beberapa bagian peluru masih berada di dalam tubuhnya. Aku melihat Jerry enam bulan setelah musibah tersebut. Saat aku tanya Jerry bagaimana keadaannya, dia menjawab, “Jika aku dapat yang lebih baik, aku lebih suka menjadi orang kembar. Mau melihat bekas luka-lukaku? ” Aku menunduk untuk melihat luka-lukanya, tetapi aku masih juga bertanya apa yang dia pikirkan saat terjadinya perampokan. “Hal pertama yang terlintas dalam pikiranku adalah bahwa aku harus mengunci pintu belakang,” jawab Jerry.

“Kemudian setelah mereka menembak dan aku tergeletak di lantai, aku ingat bahwa aku punya dua pilihan: aku dapat memilih untuk hidup atau mati. Aku memilih untuk hidup.” “Apakah kamu tidak takut?” tanyaku. Jerry melanjutkan, ” Para ahli medisnya hebat. Mereka terus berkata bahwa aku akan sembuh.

Tapi saat mereka mendorongku ke ruang gawat darurat dan melihat ekspresi wajah para dokter dan suster aku jadi takut. Mata mereka berkata ‘Orang ini akan mati’. Aku tahu aku harus mengambil tindakan.” “Apa yang kamu lakukan?” tanya saya. “Disana ada suster gemuk yang bertanya padaku,” kata Jerry. “Dia bertanya apakah aku punya alergi. ‘Ya’ jawabku..

Para dokter dan suster berhenti bekerja dan mereka menunggu jawabanku. Aku menarik nafas dalam-dalam dan berteriak, ‘Peluru!’ Ditengah tertawa mereka aku katakan, ‘ Aku memilih untuk hidup. Tolong aku dioperasi sebagai orang hidup, bukan orang mati’.” Jerry dapat hidup karena keahlian para dokter, tetapi juga karena sikap hidupnya yang mengagumkan.

Aku belajar dari dia bahwa tiap hari kamu dapat memilih apakah kamu akan menikmati hidupmu atau membencinya. Satu hal yang benar-benar milikmu yang tidak bisa dikontrol oleh orang lain adalah sikap hidupmu, sehingga jika kamu bisa mengendalikannya dan segala hal dalam hidup akan jadi lebih mudah.

Sekarang kamu punya dua pilihan:

1. Kamu dapat menutup mail ini, atau

2. Kamu meneruskannya ke seseorang yang kamu kasihi.

Aku berharap kamu memilih #2, karena aku telah melakukannya.

Selasa, 07 April 2009

semoga tidak terlambat

"Selanga-selang itu keluar dari tubuhnya.."
Mungkin itu kata2 pertama yang akan aku tulisakan dalam blog ku (walaupun ga jadi)
sekitar 1 bln yg lalu, ketika aku terbaring di UGD sambil menyaksikan
seorang bapak2 yang terkulai lemah tak sadarkan diri di bangsal di hadapanku.

1 bulan yang lalu. Ya, waktu terasa begitu cepatnya berlalu.
Saat itu aku bisa mengatakan selang itu milik seseorang di luar sana,
yang entah siapa yang sedang tertimpa nasib buruk.

1 bulan, waktu yang singkat untuk merubah semua itu.
malam ini aku menyaksikan,
selang -selang itu keluar dari dada, hidung dan mulutnya, dari tubuh sepupuku.
ya, aku, milikku, sepupuku.

kapan sih pernah aku membayangkan,
seorang yg aku kenal, bahkan saudaraku sendiri yang akan mengalaminya?
Pernahkah kau bayangkan, mendapati saudaramu, yang jelas kau kenal, yang sudah hampir 2 bulan tak pernah bertemu, lalu kau dapati dia dalam pertemuanmu berikutnya dalam keadaan terkulai tak sadarkan diri, dengan berbagai selang "menghiasi" tubuhnya, diiringi bunyi "biip.. biip..", berlatar ruang ICU rumah sakit?

yang kurasakan hanya sakit..
sakit sekali hatiku menyaksikannya...
yang aku ingin lakukan hanya menangis dan menangis...

di satu sisi aku merasa seperti sedang menonton sinetron,
atau bermain dokter2an bersamanya, seperti yang sering kami lakukan dulu, dan dia sedang berperan sebagai pasiennya.
di sisi lain aku begitu sadar bahwa ini kenyataan yang benar terjadi, yang membuat batinku, somehow sangat terpuruk. Bingung harus melakukan apa, bingung harus bertindak apa agar dia tiba2 bangun dan tertawa.

aku genggam tangannya, mencoba mencari dan merasakan keberadaannya di sekitarku.
aku bisikkan kata2 penyemangat di telinganya, dan ternyata...
dia menangis...
tak jelas memang airmata itu, tapi aku yakin, dia tau keberadaanku...

yang aku bisa hanya memanggilnya dari dalam hatiku, berharap suara batinnya mendengarnya.. berharap dia meresponku, walaupun hanya untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja, dan aku hanya harus bersabar menunggu sebentar lagi.

mungkin saat ini hampir tidak ada yang bisa aku lakukan,
kecuali satu hal, berdoa.
berdoa meminta yang di atas untuk memberinya kesempatan lagi,
berdoa meminta yang di atas untuk memberiku, memberi kami kesabaran dan ketabahan,
berdoa meminta yang di atas untuk...
ya, meminta yang di atas untuk memberikan yang terbaik.

menurutku,
kadang kita bisa mengucap syukur, ketika sesuatu menimpa orang terdekat kita, dan mengajarkan agar jangan menyia-nyiakan hidup.
kadang kita bisa berlaku pasrah, ketika sebagai manusia, kita mencapai titik keterbatasan kita untuk melakukan sesuatu.
kadang..

Penyesalan memang selalu datang belakangan.
Tapi, aku berharap, hari ini, bukanlah suatu penyesalan,
ataupun sesuatu yang harus disesali,
baik olehku, oleh sepupuku, ataupun oleh semua orang yang mungkin malam ini terduduk di lobby rumah sakit di jalan Dago, sambil mendiskusikan keadaan yang terjadi.

Sabtu, 04 April 2009

Minggu, 5 April 2009

pagi ini, aku kembali terbangun pukul 7 pagi karena telfon seseorang..
untuk kali ini, ternyata dari adikku.
Yah, dia cuman mau mengkonfirmasi ttg kepulangannya ke Jakarta,
pagi ini pukul 9 pagi dengan travel yg biasa digunakan di daerah DipatiUkur.
Ya, setelah itu, aku mencoba tidur lagi, tapi ga jadi.
Aku dengar suara "teng,,teng,,teng,," dari wajan yg dipukul.
aku kenal suara itu, itu suara tukang gorengan yg pagi2 udah mangkal dekat kostan.
akhirnya aku memutuskan untuk membeli gorengan,
lalu browsing menghabiskan waktu samapai jam setengah 9, bertemu dengan adikku di travel.

Sampai di travel, ya ternyata bin ternyata, adikku belu nyampe.
yah, menunggu memang pekerjaan yg membosankan, buat sebagian orang.
buatku tidak.
aku suka memperhatikan orang2 disekitarku untuk menghabiskan waktu menunggu,
dan terkadang mereka suka risih sih dengan tatapanku,
yang ga lepas dari mereka, dan penuh selidik.
hahaha...
biarin saja, yang penting aku ngga menganggu mereka secara langsung.

di saat aku menunggu, aku melihat seorang ibu turun dari sedan tipe baru dari
merk produsen mobil Jepang, yang lambangnya lonjong, lalu 2 buah oval menyatu didalamnya.
ibu itu cukup rapih, dengan baju model cropped warna merah,
celana bahan warna hitan, sepatu hitam mengkilap (bahan lak) berhak tinggi,
dan rambut warna coklat keemasan ditata mengembang rapih dengan kulitnya yang putih,
sambil menjinjing tas mungil berwarna merah juga.
Tak lama, aku melihat bapak2 turun dari mobil yang sama menjinjing tas kain cukup besar,
terlihat isinya cukup penuh, yang menarik perhatianku untuk melihat merk tas itu. LV. Walaupun mungkin, 80% aku yakin itu kw1. hahaha...
bapak2 itu kurus, kepalanya ditutupi rambut seadanya, tapi tidak botak, kulitnya putih dan saat itu memakai poloshirt biru tua, dengan jeans biru tua dan sepatu kulit santai warna coklat muda. Entah kenapa aku merasa kalau bapak itu tidak cocok menjadi suami ibu2 berbaju merah tadi.
(sok tau sih sebenarnya). hahaha...

Ya, tapi yg pasti, aku memang agak tertarik degan pasangan ini.
Setelah membayar tiketnya di dalam, mereka keluar lagi dn duduk disampingku,
kali ini, si ibu2 berkata, 
"Duduk, jangan masuk dulu. Mau ngerokok" 
Hm, aku kira aku salah dengar. Mau ngerokok.
Aku perhatikan lagi gerak-gerik ibu itu, menunggu dia mengeluarkan rokoknya.
Tapi yang aku lihat, si bapak2 (aku sengaja tidak menyebutnya istri atau suami dengan alasan di atas) yang mengeluarkan rokok, memasukkannya ke mulut dan menghidupkannya. Tapi si ibu2 memintanya dengan sedikit paksa, kalau bisa kubilang, "Sini, sini".
Dan, bapak2 itu memberikannya, dan yah, si ibu2 yang menghabiskannya.
Hm.. Entah kenapa dengan melihat serentetan kejadian itu, semakin aku yakin mereka bukan suami istri. (sok tau abis si memang).
aku kok merasa seperti di sinetron, atau sedang membaca majalah tentang kisah nyata, seorang ibu2 selingkuh dengan bapak2 san sekali2 bertemu di luar kota, untuk konteks kali ini di Bandung. 
hahaha.. jahat sih, tapi ya ini kan 'just an opinion'. hehehe...

akhirnya adikku datang dengan serombongan teman2nya..
ahh,, entah kenapa aku tidak menyambut gembira teman2nya..
mungkin masih kebawa bt menunggu, dan kesal karena adikku akhirnya ketinggalan travel jam 9nya, dan akhirnya berangkat jam 10, dan secara tidak langsung menyalahkan teman2nya.

setelah sarapan, aku pun menunggu di dalam bersama adikku. Teman2nya pergi membeli oleh2 khas bandung di daerah dago di toko yang menjual brownies kukus, untuk teman adikku yg mau balik juga bersama2 ke jakarta. hmm... di dalam aku menahan kantukku dan hanya duduk diam berdampingan dengan adikku. Di situ aku melihat anak perempuan kecil, usianya mungkin 3-4th, kulitnya putih, rambutnya sebahu, cukup cantik, dengan gigi depan yang entah masih belum tumbuh, atau habis digerogoti gula. 
hampir semua orang di ruangan itu tertarik degan anak kecil yg cantik ini. ternyata dia datang bersama ibunya, dan ibunya duduk di bagian belakang ruangan. Ada mas2 dan ibu2 yang bertanya "Namanya siapa, mau kemana, bla.. bla.." dan si anak cuman melihat saja ke arah mereka. Ibunya di belakang juga cuman berkata "Ayo nak, ditanya itu".
Pertama aku kira, memang anaknya yg aktif dan berjalan kesana kesini. Ternyata di samping itu, si "ibu" (aku tak yakin dia ibunya)  sedang bertelfon ria. Hm, aku lihat 5 menit lagi, telfon masih ditelinga kirinya, si "ibu" berjalan ke arah kasir, telfon masih tetap tertempel di telinga kirinya. Si "ibu" akhirnya keluar untuk menunggu di luar, telfon juga masih menempel diiringi suara "Kikikik..." tertawanya.
aku hanya melihat anak itu berjalan mengikuti ibunya, sambil membawa botol susunya. hm...
untuk yg kali ini, aku rasa, dia bukan ibu dari anak itu. wanita itu mungkin hanya tantenya.
kalau ditanya kenapa, ya, masa ibunya lebih mentingin telfonan daripada ngeliatin anaknya?
hahaha... kembali, this is just an opinion.. 

to be continue...